PeRuBaHaN IkLiM

Ancaman Perubahan Iklim Itu Nyata
Isu dampak perubahan iklim (climate change) akhir-akhir ini terus bermunculan di berbagai media massa dan menjadi pembicaraan serius di masyarakat khususnya para pemerhati lingkungan. Bencana kekeringan, banjir, kelaparan, tanah longsor, dan mewabahnya penyakit yang terjadi di beberapa belahan dunia tak terkecuali di Indonesia menjadi tanda-tanda awal perubahan iklim yang harus segera diwaspadai.

Perubahan Iklim ialah perubahan suhu, tekanan udara, angin, curah hujan, dan kelembaban sebagai akibat dari Pemanasan Global.
Dampak perubahan iklim sudah mengglobal. Dalam buku berjudul Dunia Makin Panas yang diterbitkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup bekerja sama dengan lembaga donor asal Jepang, JICA, dan Yayasan Pelangi Indonesia, disebutkan bahwa secara global ada empat dampak perubahan iklim yakni, pertama mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan. Menurut penelitian, es yang menyelimuti bumi telah berkurang 10 persen sejak tahun 1960 sementara ketebalan es di kutub utara berkurang 42 persen dalam 40 tahun terakhir.
Diperkirakan sejumlah gletser di beberapa pengunungan terkenal antara lain Himalaya, Alpen, dan Kilimanjaro hilang 50-90 persen. Dampak kedua, yakni terjadinya pergeseran musim di mana para ilmuwan memperkirakan bahwa kekeringan akan melanda benua Afrika, Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia rentan terhadap badai dan angin puting beliung, dan tanah longsor.
Ketiga peningkatan permukaan air laut. Badan dunia untuk perubahan iklim (IPCC) menyebutkan dalam 100 tahun terakhir telah terjadi peningkatan muka air laut setinggi 10-25 cm dan tahun 2100 mendatang akan terjadi peningkatan muka air laut 15-95 cm. Kenaikan muka air laut ini telah menyebabkan sebagian daratan di bumi hilang seperti hilangnya 1 persen daratan Mesir, Belanda 6 persen, Bangladesh 17,5 persen. Selain itu dampak keempat adalah dampak-dampak susulan lainnya seperti potensi gagal panen, krisis air bersih, penyebaran penyakit tropis serta punahnya jutaan spesies flora dan fauna.
Kerugian Indonesia
Di Indonesia sendiri dampak perubahan iklim sudah sangat nyata dan bila tidak diantisipasi mulai sekarang, kerugiannya bakal sangat besar. Wakil Ketua Komisi VII DPR, Sonny Keraf, pun segera angkat bicara.
“Dampak perubahan iklim secara global sudah sangat nyata sehingga pemerintah harus melakukan upaya-upaya yang strategis baik ke luar maupun ke dalam negeri guna perbaikan kondisi iklim,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (14/4).
Perubahan iklim itu memang mulai terasa. Pertama, naiknya suhu udara sebesar 0,3 derajat celcius sejak tahun 1990 dan naik lagi ke angka tertinggi tahun 1998 yaitu di atas 1 derajat Celcius di atas suhu rata-rata tahun 1961-1990.
Kerugian kedua yakni naiknya permukaan air laut. IPCC mencatat telah terjadi kenaikan muka air laut 1-2 meter dalam 100 tahun terakhir dan tahun 2030 permukaan air laut akan bertambah 8-29 cm dari saat ini.
Akibat dari hal itu bisa sungguh fatal di mana diperkirakan Indonesia akan kehilangan 2.000 pulau, mundurnya garis pantai yang mengakibatkan luas wilayah Indonesia akan berkurang. Kenaikan muka air laut tidak hanya mengancam pesisir pantai tetapi juga di kawasan perkotaan.
Diperkirakan, jika tidak ada tindakan nyata maka tahun 2070, 50 persen dari 2,3 juta penduduk Jakarta Utara tidak lagi memiliki air minum akibat memburuknya kualitas air tanah karena instrusi air laut.
Dalam buku itu juga disebutkan bahwa daerah pesisir yang rawan akan dampak kenaikan muka air laut antara lain, Pantai Utara Jawa (Jakarta, Semarang, Surabaya), Pantai timur Sumatera, Pantai selatan, timur, dan barat Kalimantan, Pantai barat Sulawesi, dan daerah rawa di Papua yang terletak di pantai barat dan selatan.
Kerugian selanjutnya menimpa sektor perikanan dimana kenaikan suhu air laut mengakibatkan alga yang merupakan sumber makanan terumbu karang akan mati dan juga terjadinya migrasi ikan ke daerah yang lebih dingin sehingga Indonesia akan kehilangan beberapa jenis ikan.
Di sektor kehutanan, potensi kebakaran hutan semakin besar Karena meningkatnya suhu udara. Sektor pertanian juga tidak ketinggalan terkena dampak. Perubahan iklim telah mengakibatkan menurunnya produksi hasil-hasil pertanian seperti besar, kacang-kacangan, jagung, dan banyaknya sawah yang tidak berproduksi (puso).
Dari sisi kesehatan, data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1997 menyebutkan tingginya angka kematian yang disebabkan malaria sebesar 1-3 juta per tahun di mana 80 persen di antaranya adalah balita dan anak-anak.
Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Tori Kuswardono, menyebutkan banjir besar yang melanda Jakarta awal tahun ini juga merupakan dampak perubahan iklim. Menurut Tori, Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia diperkirakan akan terus mengalami rangkaian bencana karena secara pertahanan lingkungan sudah sangat lemah.
“Jangankan ada serangan perubahan iklim dari luar, ekosistem di Indonesia sudah rusak. Ibaratnya, orang sudah sakit flu terkena hujan lagi, jadi tambah payah,” katanya.
Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg LH), Rachmat Witoelar bahkan mengatakan, jika persoalan perubahan iklim ini tidak diselesaikan maka dampak paling ekstrim yang bakal terjadi adalah kepunahan manusia.
Sayangnya sinyalemen yang dilontarkan Menneg LH itu belumlah menjadi hal yang prioritas utama untuk diselesaikan. Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Yayasan Pelangi Indonesia, Nugroho Nurdikiawan mengungkapkan, meskipun dampak perubahan iklim sudah nyata di depan mata, sampai saat ini pemerintah masih belum memiliki peta kerentanan dampak perubahan iklim.
“Pemetaan itu belum ada padahal data itu penting sekali untuk menjadi dasar pembangunan infrastruktur ke depan,” katanya.
Usaha Dunia
Kecemasan akan dampak perubahan iklim membuat keperdulian masyarakat internasional akan isu lingkungan global tumbuh yang pada akhirnya menyebabkan isu perubahan iklim menjadi salah satu isu penting dalam agenda politik internasional.
Pada pertengahan tahun 1980-an, berbagai pertemuan awal atau konferensi antar pemerintah mulai diselenggarakan untuk membicarakan masalah perubahan iklim.
Setelah melalui sejumlah pembicaraan maka tahun 1989 dibentuklah badan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) oleh UNEP (United Nations Environment Programme) dan WMO (World Meteorological Organization). IPCC merupakan sebuah lembaga yang terdiri dari para ilmuwan dari seluruh dunia yang bertugas untuk meneliti fenomena perubahan iklim secara ilmiah serta kemungkinan solusinya.
Tidak kurang dari setahun, IPCC lalu mengeluarkan hasil penelitiannya yang pertama, yakni First Assessment Report di mana dalam laporan tersebut dipastikan bahwa perubahan iklim merupakan sebuah ancaman bagi kehidupan seluruh umat manusia.
Pada Desember 1990, PBB secara resmi membentuk sebuah badan antar pemerintah, yaitu Intergovernmental Negotiating Comittee (INC) untuk melakukan negosiasi ke arah konvensi perubahan iklim. Badan ini selanjutnya menyepakati secara konsensus sebuah Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (United Nations Framework Convention on Climate Change – UNFCCC).
Tonggak awal perlawanan terhadap perubahan iklim terjadi dalam bulan Juni 1992 yaitu KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, dimana pada kesempatan ini Konvensi Perubahan Iklim mulai ditandatangani.
Konvensi Perubahan Iklim pada akhirnya dinyatakan telah berkekuatan hukum sejak 21 Maret 1994 setelah diratifikasi oleh 50 negara. Tujuan utama Konvensi Perubahan Iklim adalah untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca pada tingkat aman, sehingga tidak membahayakan sistem iklim global.
Setelah Konvensi Perubahan Iklim diratifikasi, negara-negara peratifikasi atau para pihak, melakukan pertemuan tahunan yang dikenal dengan Pertemuan Para
Conference of the Parties (COP). Conference of the Parties pertama kali diselenggarakan pada tanggal 28 Maret – 7 April 1995 di Berlin, Jerman. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi masalah perubahan iklim.
Tonggak sejarah kembali bergulir pada pertemuan COP3 tahun 1997 yang menghasilkan sebuah komitmen yang terkenal dengan sebutan Protokol Kyoto. Salah satu inti dari protokol itu yakni mewajibkan seluruh negara Annex I (negara-negara industri maju) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) rata-rata sebesar 5,2 persen dari tingkat emisi tahun 1990 pada periode tahun 2008-2012.
Protokol Kyoto itu sendiri bertujuan untuk mengurangi secara keseluruhan emisi 6 jenis GRK, yaitu karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs), dan sulfurheksafluorida (SF6). [E-7]
PERUBAHAN IKLIM AKIBAT CLORO FLORO CARBON (CFC)
Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Studi tentang iklim dipelajari dalam meterologi. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Beberapa klasifikasi iklim di bumi ini di tentukan oleh letak geografis seperti iklim tropis, iklim sub tropis dan lain-lain. Tetapi iklim dapat berubah apabila keseimbangan bumi tidak di jaga.

Gb.Mekaniame perubahan iklim
Perubahan iklim adalah suatu fenomena yang tidak bisa di hindari lagi. Sekarang banyak penyebab yang mengakibatkan perubahan iklim terjadi. Kebanyakan aktifitas manusia yang menjadi penyebab paling besar contohnya asap pembakaran dari pabrik, kendaraan, dan pembalakan atau penebangan hutan secara liar. Menurut Intergovermental Panel on Climate Change ( IPCC ) temperatur permukaan panas bumi rata-rata meningkat dari 0,3 Celcius menjadi 0,6 Celcius dalam kurun waktu 100 tahun terakhir, jika jumlah emisi gas rumah kaca terus terbentuk diatmosfir maka diperkirakan pada tahun 2030 temperatur bumi akan mengalami kenaikan sampai 1,5 Celcius- 4,5 Celcius.
Karena perubahan iklim alam menjadi rusak dan banyak terjadi bencana dimana-mana dan juga menaikan tempratur suhu bumi. Peningkatan temperatur panas bumi seperti ini akan menimbulkan perubahan iklim yang akan mengakibatkan naiknya permukaan laut,meluasnya padang pasir, pengasinan sumber air minum, banjir besar disetiap negara-negara kepulauan dan bencana kelaparan diseluruh dunia karena daerah-daerah pertanian akan musnah serta ekosistem akan mengalami kehilangan sebagian besar keanekaragaman species.
Selain daripada itu adalagi masalah yang diakibatkan oleh perubahan iklim yang berdampak pada perubahan air laut yang dapat mengubah populasi ikan, perubahan curah hujan yang dapat mempengaruhi aliran sungai, penyimpanan air sungai yang berdampak bagi irigasi dan navigasi.
Perubahan iklim terjadi akibat lapisan ozon yang semakin menipis yang di sebabkan oleh adanya radiasi matahari atau terperangkapnya panas matahari yang disebabkan oleh gas efek rumah kaca yang salah satunya gas cloro floro carbon atau biasanya lebih dikenal dengan CFC. Dampak bagi kesehatan mahluk hidup dari menipisnya lapisan ozon yaitu masalah pernapasan, berkurangnya sistem kekebalan tubuh.
Chloro Fluro karbon (juga disebut CFC) adalah gas terdiri dari tiga unsur Klor, Fluor dan Carbon. Mereka pernah digunakan secara luas sebagai pendingin dalam kulkas dan sebagai pendorong dalam kaleng aerosol. Saat itu ditemukan pada akhir 1970-an dan awal 1980-an bahwa CFC dari kulkas tua dan rusak dan kaleng aerosol tua secara bertahap menemukan jalan masuk ke bagian atas atmosfer di mana mereka merusak lapisan ozon. Lapisan ozon melindungi Bumi dari radiasi berbahaya. Sebagai result kerusakan, lubang-lubang mulai muncul di lapisan ozon di atas Kutub Selatan setiap musim panas, semakin besar setiap tahun. Akhirnya penggunaan CFC dalam aerosol dan kulkas di larang. Bukan hanya terdapat di dalam kulkas atau kaleng aerosol cfc pun di temukan di dalam AC, asap pembakaran pabrik, kendaraan, dan hutan. Pada dasarnya cfc tidak berbahaya, tetapi karena pemakaiannya yang berlebih cfc dapat merusak lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi matahari.
Cloro floro carbon juga menjadi salah satu pemegang andil dalam gas efek rumah kaca. Gas efek rumah kaca disebabkan oleh karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.

Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat. Yang dapat mengakibatkan meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Tetapi di samping dampak negatifnya efek rumah kaca mempunyai efek positifnya yaitu menjadi alat penghagat untuk bumi.
Ternyata banyak sekali dampak yang merugikan yang di sebabkan oleh perubahan iklim yang di akibatkan oleh cloro floro carbon dan banyak pencegahan yang dapat kita lakukan untuk menekan perubahan iklim lebih parah lagi dengan menjaga lingkungan kita. Contohnya salah satunya kita harus menjaga hutan dari pembalakan atau penebangan hutan secara liar. Karena hutan di areal hutan, tanaman menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan melepaskan gas oksigen ke atmosfer sebagai proses photosintesis. Laut juga termasuk salah satu daerah yang harus kita jaga. Terdapat istilah carbon sink yang sering di gunakan dalam bidang perubahan iklim. Istilah ini berkaitan dengan fungsi hutan dan laut sebagai penyerap (sink) dan penyimpan (resevoir) carbon. Daratan maupun lautan berfungsi menjadi tempat menyerap gas karbon dioksida (CO2). Gas ini dapat diserap oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis, sedangkan di lautan, gas karbon dioksida digunakan oleh fitoplankton untuk proses fotosistesis, dapat tenggelam ke dalam laut beserta dengan pemakan fitoplakton dan predator tinggi lainnya. Proses perpindahan gas karbon dioksida dari atmosfer (lautan dan daratan) disebut sebagai carbon sequestration.
Pada KTT Copenhagen pada desember lalu untuk mencegah perubahan iklim telah di putuskan bahwa dunia akan membayar negara-negara yang memiliki hutan hujan tropis karena hutan hujan tropis sangat bermanfaat untuk penyerapan gas efek rumah kaca yang salah satunya adalah cfc. Dan kita negara indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai hutan hujan tropis. Maka dari itu mari kita lesatarikan hutan dan laut indonesia untuk menjadikan masa depan lebih baik
Kekeringan Akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim (climate change) kini sering dibicarakan orang. Tanpa aksi memerangi perubahan iklim, konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer akan terus meningkat. Kondisi tersebut tidak terlepas dari keberadaan GRK di atmosfer bumi yang berasal dari berbagai aktivitas manusia, terutama kegiatan yang membutuhkan dan membakar bahan bakar fosil (seperti minyak dan gas bumi) dan kegiatan yang menurunkan fungsi serap hutan (seperti penebangan dan pembakaran pepohonan).
Indonesia sendiri sekarang sudah memiliki aksi nasional untuk mengantisipasi pemanasan global dan perubahan iklim, baik adaptasi maupun mitigasi. Dari segi teoritis terdapat rencana penghematan energi maupun energit alternatif. Tapi, memang terlalu lambat kita sadar mengenai hal ini dan juga tindakannya. Kita merasakan bagaimana panasnya suhu udara di perkotaan pada musim kemarau, bagaimana dampak dari kenaikan muka air laut bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, bagaimana dampak di sektor kehutanan, pertanian, peternakan dan sektor kesehatan. Bahkan pola hujan yang sangat tidak menentu ini akan membuat sistem persediaan air (water supply) menjadi sangat terganggu. Masyarakatlah yang nantinya sebagian besar akan merasakan dampak negatif dari perubahan iklim ini. Berbicara soal pemanasan global, Indonesia bisa dikatakan berada di posisi yang unik secara alamiah. Secara alamiah geografis dan meteorologis, posisi Indonesia rawan terhadap dampak perubahan iklim akibat pemanasan global. Posisi ini semakin “ekstrem” karena Indonesia berada di ekuator yang dinamika iklimnya paling kacau. Secara geografis, wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan diapit dua samudra besar dunia, yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Dua samudra itu bisa dikatakan “mesin iklim” dunia.. Air laut pasang, musim mudah berubah dan tidak jelas, malaria dan demam berdarah kian mengganas, dan masih banyak lagi peristiwa memprihatinkan akibat pemanasan global. November lalu, sengatan mentari memanas, menyengat tak terkira. Udara kering selama beberapa hari mempercepat rasa haus di kerongkongan. Padahal, beberapa minggu sebelumnya, di akhir bulan Oktober, hujan mengguyur bumi tiada henti selama kurang lebih dua minggu.
Tak disangka iklim berganti wajah begitu cepat. Perubahan iklim di Indonesia meningkatkan frekuensi penyakit tropis, seperti malaria dan demam berdarah. Naiknya suhu udara menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek Siapa lagi yang paling rentan dengan cepatnya iklim berubah kalau bukan anak-anak dan balita. kasus kebakaran hutan yang rutin melanda Tanah Air dan mengirimkan asap ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga melahirkan problem besar. Kualitas udara memburuk dan menurunkan derajat kesehatan penduduk di sekitar lokasi kebakaran. Intensitas hujan yang tinggi dengan periode singkat akan menyebabkan bencana banjir. Banjir akan mengontaminasi persediaan air bersih Bila kita mendiamkan terus dampak-dampak perubahan iklim seperti ini, ketahanan pangan di Indonesia bisa terancam manajemen tanam harus disesuaikan praktik penyesuaian kalender tanam, manajemen pengelolaan air, serta penelitian mengenai varietas yang cocok dengan kondisi kedepan. Perubahan iklim sudah dapat kita rasakan saat ini, misalnya suhu semakin meningkat. Selain itu, terjadi pergeseran musim hujan dan musim kemarau. Musim kemarau menjadi lebih panjang. Musim hujanpun menjadi pendek. Namun, intensitas hujan sangat tinggi. Hal ini dapat menimbulkan banjir atau longsor yang bisa mendatangkan korban. Pergantian musim yang tak tentu membuat para petani mengalami kegagalan panen. Petani menjadi kesulitan menentukan kapan waktu tanam. Ketika mereka menanam, tiba-tiba hujan tidak datang. Hal ini tentu menimbulkan kerugian besar bagi petani. Demikian juga bagi nelayan. Mereka kesulitan melaut karena perubahan iklim dalam menimbulkan badai. Kita tahu, petani dan nelayan adalah kelompok yang paling miskin. Mereka adalah komunitas yang paling rentan dengan dampak pemanasan global dan perubahan iklim Negara berkembang melakukan mitigasi dalam rangka melakukan pembangunan berkelanjutan melalui bantuan tekonologi, peningkatan kapasitas, pendanaan, melalui cara-cara terukur, nyata dan dapat dilaporkan. mitigasi atau penanggulangan dapat dilakukan, di antaranya dengan energi terbarukan, energi bersih, aforestasi dan reforestasi yakni penghijauan dan penghutanan kembali. Mitigasi dalam hal transportasi yakni penggunaan energi dengan efisien, bersih, terbarukan.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia merupakan salah satu negara yang terkena akibat dari perubahan iklim yang terjadi, secara tidak langsung perubahan iklim ini menimbulkan kesusahan-kesusahan bagi negara kita yang tergolong sebagai negara dengan tingkat perekonomian yang tidak terlalu tinggi ahkan dapat dikatakan relatif rendah, bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan sebagainya semakin menyusahkan bangsa ini. Tidak menutup kemungkinan kalau bencana -bencana alam yang terjadi belakangan ini di Indonesia merupakan dampak dari adanya perubahan iklim. Dengan banyaknya bencana alam yang terjadi tentu dana yang dibutuhkan juga semakin banyak. Baik itu dana untuk pembangunan kembali maupun bantuan bagi korban bencaan alam itu sendiri. Akibatnya sangatlah mungkin kemiskinan di Indonesia menjadi semakin tinggi. Di sektor pertanian, adanya bencana alam dapat merusak lahan pertanian juga menyebabkan gagal panen sehingga petani akan merugi dan menyebabkan kemiskinan.
Kerjasama antara negara-negara di dunia sangat diperlukan, negara-negara maju yang memiliki dana yang cukup diharapkan dapat membantu negara-negara berkembang dalam proses adaptasi maupun mitigasi untuk mengantisipasi perubahan iklim ini, bukan malah mengambil keuntungan ataupun hanya mementingkan kepentingan negara sendiri.

Leave a response and help improve reader response. All your responses matter, so say whatever you want. But please refrain from spamming and shameless plugs, as well as excessive use of vulgar language.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.